well, selamat pergantian bulan, karna ini tanggal satu jam satu lewat 1 jam,, krikk ,krikk,, apaan sih,,,
intinya karna bulan ini spesial, jadi saya mau ngepost, nah berhubng gak ada inspirasi sama sekali ( badan lalah modeon, pikiran kumet mode onnnnnnnnn) , jadi saya putusin ngepost salah satu bagian potongan penggalan ( ini boros banget dah pengunaan katanya) novel yang sedang saya fokus kan garap, selamat membaca,
#wajar kalo gak nyambung itu bagian pertengaham
......................
Lembah dorest –bag II
intinya karna bulan ini spesial, jadi saya mau ngepost, nah berhubng gak ada inspirasi sama sekali ( badan lalah modeon, pikiran kumet mode onnnnnnnnn) , jadi saya putusin ngepost salah satu bagian potongan penggalan ( ini boros banget dah pengunaan katanya) novel yang sedang saya fokus kan garap, selamat membaca,
#wajar kalo gak nyambung itu bagian pertengaham
......................
Lembah dorest –bag II
Menos merasakan suatau getaran kecil, sesaat kemudian dia
merasa lega .seolah pikiran dan jiwanya, terbebas dari kabut yang berat ini. Jernih.., dia bisa
melihat dan berpikir sangat jernih, dia bisa melihat kabut menipis, namun taklama
kabut ini berusaha menjalari tubuhnya lagi, kabut bergerak ia melihatnya.
“Wusshhhhhhh..”
Kembali seperti itu, kini lebih jernih dari sebelumnya.
Ada sosok bayangan dari arah datangnhya angin yang meng hempasankan kabut. Menos menyambanginya,
itu hala, dia sedang membaca mantratangan
dan wajah nya menengadah ke langit, tongkat ditangan kirinya, batudroit
yang dia pegang tadi kini nampah mengeluarkan cahaya kemerahan lebih
terang dari yang tadi. Tangan menoz siap
di ujung pedangnya, kaitan sudah di lepas pada sarung sang pedang.Menoz
mencurigai hala.
Kedatangan menoz membuat hala terhenti dalam merapal.Mata
hala terbelengak kaget, sedikit bergetar
pupilnya, aura menoz sangat aneh saat itu, tak nampak namun ia merasakan
menoz seperti mengeluarkan asap merah
dari badanya. Ini menghawatirkan, namun ada hal yang lebih pantas untuk di
khawatirkan., hanya sesaat dia menatap
kea rah menoz, kemudian kembali melanjtkan mantranya,
“ina
paraushe ha rais wara dolos, everst la wasta., everst la lain. Tala da lesa un kaenrase ih. Tra loyin da lakeshey en ea saara”
“Un
daras..! un daras was.! Dose kaen ea rosya!!”
“Aku berdoa kepada tuhan yang menjaga gunung ini, everst lah
ibu mu, dan evesrt lah sahabat ku.salju yang terjatuh ditandukmu, seperti beku
yang menyelimuti hati ku.”
“Terhempas, terhempaslah
pergi dalam damai keluarga ku….!!”
cukup panjang, diakhiri dengan menghentakan kencang
tongkatnya ke bumi dengan kedua tanganya.
“Wusshhhhhhh,” kabut kembali
terhempas,
Kini menoz yakin bukan hala yang mngundang kabut ini. Wajah
hala sedikit terlihat berekeringat, menoz
menduga memerlukan energy yang cukup besar dalam suatu hentakan untuk
menyingkrkan kabut ini
“Ini semua bukan perbuatan mu,” Tanya menoz. Hala menggeleng
nafas nya sedikit terengah
Tidak ,aku mencoba menenangkanya.”
Lembah dorest kah??
Ya, kurasa begitu..”
“Bukankah letaknya
masih cukup jauh?”
“Ini sudah senja, kabut itu bisa turun kapan saja..?”
Keanehan , sihir, ilusi, mereka para droit memang sudah di
latih untuk berhadapan langsung dengan hal hal semacam itu, tapi itu hanya
untuk untukmencegah , bertahan dan
menghindarinya bukan menyingkirkanya.
“Aku paham,Lanjutkan mantra mu.!”
“tak bisa, ini tak akan berhasil , arwah yang mendiami
dorest menolak ku,”
Menoz kembali di bingunkan , situasi ini, dia harus bagai
mana, sial!!, pikirnya, kalo tau akan jadi seperti ini, lebih baik tadi memutar
melewati perbatasan linus saja, toh distu dia hanya akan bertemu manusia,
makhluk yang akan mati bila tubuh nya ter koyak , dan menancapkan pedang ialah
keahlian para droit, padahal ia punya kesempatan bagus, disana ada 5 lagi perisai hitam ,dengan nya
dan enam jadi tujuh, sesaat muncul
kebencian pada dirinya, mengapa begitu bodoh mengikuti putra kerajaan yang
culun itu.
Ditengah gerutu menoz Tiba tba saja Hala seperti menyadari sesuatu, entah dia teringat atau tersadar akan suatau hal
atau justru dia mendengar suatu panggilan yang tak bisa didengar menoz, hala
menjadi celingkukan mencari arah kemudian dia menatap pucuk pohon, masih tersisa sedikit penerangan matahari
disana. Dia menatap ke belakangnya.Mencoba beranjak secepat mungkin. Sebelah
sana.
“Kemana kau pergi??” Tanya menoz, berharap.
“Aku tak punya waktu menjelaskanya, percaya padaku. Kita
harus cepat untuk menyelamatkan yang lainya.“
Monoz menyetujuinya, dengan sigap dia mengambil tas hala dan
membawakanya, bukan menjadi pembantu,namun menoz tau ,
kedua tangan hala di butuh kan untuk berkonsentrasi pada tongkot
kayunya.
………………………..
Al…..!!!!!!!!!!!!! pully berteriak, suaranya bergema, tiap tiap orang dari dua romobongan lain mendengarnya,
Itu pully,, “ ucap liliy, wajahnhya sedikit lega, seperti
msih ada harapan, dari pendengaran nya jaraknya tidak begitu jauha dari tempat
alfono dan dirinya sekarang.
“Tunggu liliy..” ucap al. liliy terhenti,ketika mencoba
berlalri, begitu pula dengan al, dia
berpikir , tak biasanya alfonso berpikir sebelum berkata,
“Aku memikirkan suatu hal, jangan beranjak dari tempat mu
sebelum aku mengatakan apa yang aku pikirkan..”al linglung,
Alfonso….!!!!!!!! Halaian..!!! teriakan pully kembali menggema..
Di tempat lainya Enam mencoba menunggu reaksinya, dia
memasng diri sesiaga mungkin, jaraknya
dengan pully dan tressa memang sangat dekat, tapi itu tak bisa menjamin apapun,bukankah
sebelumnya mereaka bertujuh juga berjalan dengan romobongan yang sedekat mungkin
sesuai apa yang diarahkan menoz, namun
kenyataan mereka telah terpisah kini.
“Pully” teriak liliy dari sebrang kabut, alfonso menyuruhnya tak beranjak, namun bukan
berarti dia tak boleh membalas sautan pully.
“Liliy” gumam pully,
“Lihat ini berhasil, sudah kuduga, ayo tressa, enam.” Ucap
pully bersemangat, membuat tressa tersenyum lega dan bergegas, enam masih
terdiam, dia mengambil sesuatu dari tas nya..
“ini, ikatkan tali ini di pergelangan kalian sekencang
mungkin, kita akan bergerak menyambangi asal suara lily..”
Ucap enam seraya melemparkan ujung tali kepada mereka
berdua, menurut pully ini menggangu, namun tak perlu diambil pusing, toh
merekan akan bertemu dengan rombongan yang lainya.
…………
Dari mana kau mendengarnya,?” ucap al mencari
Ah?? Maksud anda suara pully?
Ya?”
Liliy mencoba memastikan, padahal dia sudah tau pasti dari
mana
“Dari arah belakang mu..”
“Sudah ku duga, aku mendengarnya dari arah yang berlawanan,”
ucap alfonso, memuat liliy semakin gemetar saja, tak mungkin al bercanda disaat
seperti ini, dan tak mungkin pendengaran nya salah, namun ia begitu yakin bila
suara pully berasal dari arah berlawan yang al katakana.
“Apa anda yakin al?” ucap lily menboa meyakinkan.Al menatap
nya dengan serius, sebelum memberi sebuah anggukan kecil.
“dan bukan kah aneh,
menurut mu apa yang akan dilakukan seorang pully, Bila mendengar suara
sahutan balasan seperti itu??
Lily terdiam, dia terlalu gemetar untuk berpikir.hanya
menunggu al kembali berucap.
“dia pasti akan berteriak semakin kencang dan berulang ulang, tak peduli siapa yang bersama
nya, dia pasti akan melakukanya.” Al
menjawab pertanyaanya sendiri
Kata kata yang masuk akal dari al, memang seharusnya seperti
itulah pully bereaksi, namun sampai saat
ini, beberapa menittelah berlalau setalah lily kembali menyaut . suara pully
sama sekali tak terdengar.
Buang semua senjata mu, aku akan mengikat kan kita disalah
satu pohon”
Kita masih berada jauh dari lembah dorest, aku yakin mata
hari akan sampai kesini bbegitu fajar”
………………………….
Sebuah bayangan muncul di balik kabut, enam mencabut pedang
dari sarungnya, seorang kakek muncul
darii sana, rambutnya sudah memutih dan terdapat botak ditengahnya, namun
fisiknya masih tetap bugar seperti rremaja, jubbah serta seperti seorang penjelajah, namun tak
membawa apapun.
Wala….. ada orang lain disini? Ucap kakek tersebut, membalut mereka betiga dalam
keanehan.
Apa kalian tersesat juga? Lanjut sang kakek
“ya,kek kau benar, beberpa puluh menit yang lalu, kami
terpisah dari rombongan kami karna kabut ini” jawab pully, hanya seorang kakek
tua, dia bisa menenangkan dirinya untuk ini.
Rombongan , oh masih ada yang lain, aku beruntukng, “
kakektersebut meracau sendiri
Apa kalian masih punya bahan makanan?.”
Ya tentu saja, kami punya beberapa ,apa kakek
lapar?, “ kini tressa mencoba menurunkan tas nya,
Tak perlu, simpan saja dulu, baru beberapa jam yang lalu aku
menghabiskan perbekalan terakhir ku, senang nya memiliki, cadangan , untu mencari jalan keluar
dari sini.
Apa kau juga tersesat kek” Tanya enam
“Ya, aku sudah berputar disini beberapa hari.”
“Bagai mana kau bisa sampai kesini.””
“Aku tinggal di pinggir hutan frois, Aku mencari ikan dihulu
, dan tersesat disni wewewe”
Ini sudah terlalu jauh memutar menghindari hulu. Ada tebing
curam yang kami tempuh seeblum sampai sini.?Baga mana kau bisa kesini?
“ wewewee,,seorang kakek tua seperti ku membaca sebuah arah.
apa yang bisa di harapkan untuk itu”
enam.” Ucap tressa, mencoba menghentikan rondongan
pertanyaan enam.
tressa paham sorang prajurti rahasia prudence pasti lah
harus berhati hati dalam melangkah, tindakan mencurigakan tidak akan di tolerir
oleh perisai hitam, namun bagi seorang yang di besarkan dengan di kelilingi
tatakrama nirnia yang tinggi tindakan enam tentulah sangat tidak sopan baginya. dalam dalam ini menatap tajam mata
enam.
baiklah, kau boleh ikut kami kek,”
yeppy” justru pully yang kegirangan , dengan ini, dia
sedikit bersorak untuk ini.
Oh.Terimakasih ,.”
Yes, ayo semua, ucap pully seraya menarik tali yang mengikat
dia tressa dan enam.
Eh,wewewee,, apa ini sebuah tali??
bukankah Baiknya
kalian membuka tali ini,? Ucap sang kakek
ketika memperhatikan ada tali yang menghubungkan mereka bertiga
akan sulit bagi kalian untuk berjalan bilsa saling terikat seperti iini.” Lanjutnyadengan
tangan menimang nimang tali tersebut .
Tak perlu, kami telah
sepakat, ini menjaga kami agar tak saling terpisah, seperti sebelumnya.” Jawab enam
menyerobot tanpa memperdulikan pendapat
pully dan tressa, padahal jelas terlihat
pully sudah sangat risiih dengan tali
tersebut di pergelanganya.
Ku rasa kau juga harus mengikat tangan mu kek, kau akan mati
kelaparan bila terpisah dari kami.!” Tanya pully menghawatirkan sang kakek.
“Tak perlu, aku sudah dua hari tersesat disini, ku rasa aku
cukup hafal dengan jalan jalan ini.”
“Aku akan mencoba sedekat mungkin dengan kalian, dan kita
akan sama sama keluar dari kabut ini. Bukankah begitu?.
Bales kakek tersebut dengan memberi sinyal kedipan pada
pully.
“tentu kek, ku jamin, kita akan keluar dari tempat sialan ini”.
Entah kenapa pully jadi begitu yakin dapat keluar dari kabut ini bukan kah tadi dia
merupakan orang yang paling khawatir akan situasinya, sifat taltala memang
susah di tebak dapat menjadi berani
dalam sekejap saja, atau mungkin hanya pura pura menjadi pemberani.
…………………………..
Sepanjang jalan hala terus merapal sesuatu yang tidak di
mengerti oleh menoz, namun ia yakin
mantra yang di ucapkan hala bekerja, kabut kabut tu menjauhi mereka, seperti, kereta
yang membelah salju di musim dingin, nampak seperti itu lah perjalanan mereka
berdua.
Hanya 3o menit dengan sedikit berlari kecil mereka melihat
sebuah dataran terbuka di kaki gunung ini dengan gubuk tua menyempil di
pepohonan sebrang dataran.Kabut sudah lepas dari mereka, dan menoz yakin mereka
menuju gubuk itu.
“apapun yang kau
dengar, jangan berkata apapun, aku yang
akan mengurus ini.” Ucap hala, yang di setujui oleh menoz..
Tok..!!! tok.!!!!
…………………………….
Matahari semakin turun, sudah beberpa puluh menit mereka
berempat menyelusuri jalur ini.
Tidak, pohon sebelah kira itu, aku sudah sering
melewatinya,,” ucap kakek yang kini
menjadi pemandu mereka bertiga
“sebelah sini anak anak” sambungnya seraya berlari kencang
kearah kiri.
“hey tunggu kek,” pully terkejut sangkakek berlalri begitu,
saja bagaman bila mereka kehilangan kakek tersebut, sungguh kakek tua yang
aneh,,
Sinnggg…. Dntingan benda tajam terhempas melayang diudara,, slittttt.. sretttt..!!
Apa yang kau lakukan enam.” Tressa berteriak, dara segar
mengalir dari lengan kiri enam, baru saja, ia menyatkan pisau kelenganya sendiri. Tak ada ringisan
ringsan kesakitan sama sekali di mukanya, hanay sentakan sesaat seolah dia
berhasil menyadari sesuatu.
“kita belok kanan , “ ucap enam tegas.
“t-a-p-i… ka-kek, tadi… “ pully terbata, dengan sifat aneh
yang di tunjukan enam
“ KUMOHON, jangan buat aku memaksa kalian berdua untu
mengikuti ku.!!!!!!!!!!” gigi enam berkerat, dia memaksakan keputusanya,
Tressa tak peduli, dia memilih mencoba secepat mungkin mengambil perban yang
ada ditasnya.
Semntara pully mendengus dia menendang batu, yang terhempas
cukup jauh dan terpantul terus menerus, terlalu jauh untuk ukuran tentangan
kecil pully.
……………
Indera mereka telah di butakan, kabut menjadi semakin tenbal
disanan, meraka sama sekali tak mencoba beranjak, namun kabut seperti meminta untuk dikendarai sejauh
mungkin , alfonso, dan lily masih
terikat di pohon, pikiran mereka mulai kalut, kaki al mencoba meraih pisau yang
ia lemparkan tadi, padahal jelas baru beberapa puluh menit yang lalu ia
melemparkan semua senjatanya obat yang liliy berikan tak berpengaruh sama
sekali, halusinasi ini begitu kuat merangsang otak mereka, atau mungkin saja
benar yang dikatakan al, ini bukan
halusinasi yang merangsang otak, tapi jiwa. Sebuah ilusi dari dunia yang lain.
Pully mulai terseret dengan tali ditanganya,enam pun lupa
tentang apa yang ia tarik adalah pully, kesadaranya mulai menipis, tressa,
mulai berjalan tanpa pikiran, hanya dorongan dari enam lah yang membuatnya tetap
maju,
Mereka benar benar tanpa akal, sudah seperti berjalannya tiga manusia tak berjiwa,
“ oh sukur lah, kalian lagi,” kakek yang tadi kembali muncul
di depan mereka, tanpa bayangan sama sekali, tiba tiba saja sudah ada didepan
mereka,Tak ada yang menyadari akan ke anehan sang kakek. Untuk berpikir pun sulit.suara sang kakek
seperti satu satu nya hal yang dapat terdengar mereka bertiga saat itu.
“Mengapa kalian tak
mengikuti ku, aku menemukan jalan keluar untuk kita, tapi kalian
menghilang,”
“ aku menghawatirkan kalian , jadi aku kembali,..
selanjutnya, jangan pernah terpisah dari ku,…”
“ce[atlah, ujung
jalur pohon ini, kita belok kanan, sudah dekat untuk kita bebas..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar