Jumat, 30 September 2016

Lembah dorest –bag II

well, selamat pergantian bulan, karna ini tanggal satu jam satu lewat 1 jam,, krikk ,krikk,, apaan sih,,,
 intinya karna bulan ini spesial, jadi saya mau ngepost, nah berhubng gak ada inspirasi sama sekali ( badan lalah modeon, pikiran kumet mode onnnnnnnnn) , jadi saya putusin ngepost salah satu bagian potongan penggalan ( ini boros banget dah pengunaan katanya)  novel yang sedang saya fokus kan garap, selamat membaca,

#wajar kalo gak nyambung itu bagian pertengaham
......................
Lembah dorest –bag II

Menos merasakan suatau getaran kecil, sesaat kemudian dia merasa lega .seolah pikiran dan jiwanya, terbebas  dari kabut yang berat ini. Jernih.., dia bisa melihat dan berpikir sangat jernih, dia bisa melihat kabut menipis, namun taklama kabut ini berusaha menjalari tubuhnya lagi, kabut bergerak ia melihatnya.

“Wusshhhhhhh..”

Kembali seperti itu, kini lebih jernih dari sebelumnya.
Ada sosok bayangan dari arah datangnhya angin yang  meng hempasankan kabut. Menos menyambanginya, itu hala,  dia sedang membaca mantratangan dan wajah nya menengadah   ke langit, tongkat ditangan kirinya, batudroit yang dia pegang tadi kini nampah mengeluarkan cahaya kemerahan lebih terang  dari yang tadi. Tangan menoz siap di ujung pedangnya, kaitan sudah di lepas pada sarung sang pedang.Menoz mencurigai hala.

Kedatangan menoz membuat hala terhenti dalam merapal.Mata hala terbelengak kaget, sedikit bergetar  pupilnya, aura menoz sangat aneh saat itu, tak nampak namun ia merasakan menoz  seperti mengeluarkan asap merah dari badanya. Ini menghawatirkan, namun ada hal yang lebih pantas untuk di khawatirkan., hanya sesaat dia  menatap kea rah menoz, kemudian kembali melanjtkan mantranya,

ina paraushe ha rais wara dolos, everst la wasta., everst la lain. Tala da lesa un  kaenrase ih. Tra loyin da lakeshey en ea saara”
“Un daras..! un daras was.! Dose kaen ea rosya!!”

“Aku berdoa kepada tuhan yang menjaga gunung ini, everst lah ibu mu, dan evesrt lah sahabat ku.salju yang terjatuh ditandukmu, seperti beku yang menyelimuti hati ku.”
“Terhempas, terhempaslah  pergi dalam damai keluarga ku….!!”

cukup panjang, diakhiri dengan menghentakan kencang tongkatnya ke bumi dengan kedua tanganya. 

“Wusshhhhhhh,” kabut kembali terhempas,

Kini menoz yakin bukan hala yang mngundang kabut ini. Wajah hala sedikit terlihat berekeringat, menoz  menduga memerlukan energy yang cukup besar dalam suatu hentakan untuk menyingkrkan kabut ini 

“Ini semua bukan perbuatan mu,” Tanya menoz. Hala menggeleng nafas nya sedikit terengah

Tidak ,aku mencoba menenangkanya.”

Lembah dorest kah??

Ya, kurasa begitu..”

“Bukankah  letaknya masih cukup jauh?”

“Ini sudah senja, kabut itu bisa turun kapan saja..?”

Keanehan , sihir, ilusi, mereka para droit memang sudah di latih untuk berhadapan langsung dengan hal hal semacam itu, tapi itu hanya untuk  untukmencegah ,  bertahan dan  menghindarinya  bukan menyingkirkanya.

“Aku paham,Lanjutkan mantra mu.!”

“tak bisa, ini tak akan berhasil , arwah yang mendiami dorest menolak ku,”

Menoz kembali di bingunkan , situasi ini, dia harus bagai mana, sial!!, pikirnya, kalo tau akan jadi seperti ini, lebih baik tadi memutar melewati perbatasan linus saja, toh distu dia hanya akan bertemu manusia, makhluk yang akan mati bila tubuh nya ter koyak , dan menancapkan pedang ialah keahlian para droit, padahal ia punya kesempatan bagus,  disana ada 5 lagi perisai hitam ,dengan nya dan enam jadi tujuh,  sesaat muncul kebencian pada dirinya, mengapa begitu bodoh mengikuti putra kerajaan yang culun itu.

Ditengah gerutu menoz Tiba tba saja Hala seperti  menyadari sesuatu, entah  dia teringat atau tersadar akan suatau hal atau justru dia mendengar suatu panggilan yang tak bisa didengar menoz, hala menjadi celingkukan mencari arah kemudian dia menatap pucuk pohon,  masih tersisa sedikit penerangan matahari disana. Dia menatap ke belakangnya.Mencoba beranjak secepat mungkin. Sebelah sana.

“Kemana kau pergi??” Tanya menoz, berharap.

“Aku tak punya waktu menjelaskanya, percaya padaku. Kita harus cepat untuk menyelamatkan yang lainya.“

Monoz menyetujuinya, dengan sigap dia mengambil tas hala dan membawakanya, bukan menjadi pembantu,namun  menoz tau ,  kedua tangan hala di butuh kan untuk berkonsentrasi pada tongkot kayunya.
………………………..

Al…..!!!!!!!!!!!!! pully berteriak,  suaranya bergema, tiap tiap orang dari  dua romobongan lain mendengarnya,

Itu pully,, “ ucap liliy, wajahnhya sedikit lega, seperti msih ada harapan, dari pendengaran nya jaraknya tidak begitu jauha dari tempat alfono dan dirinya sekarang.

“Tunggu liliy..” ucap al. liliy terhenti,ketika mencoba berlalri,  begitu pula dengan al, dia berpikir , tak biasanya alfonso berpikir sebelum berkata,

“Aku memikirkan suatu hal, jangan beranjak dari tempat mu sebelum aku mengatakan apa yang aku pikirkan..”al linglung,

Alfonso….!!!!!!!! Halaian..!!!  teriakan pully kembali menggema..

Di tempat lainya Enam mencoba menunggu reaksinya, dia memasng diri sesiaga mungkin,  jaraknya dengan pully dan tressa memang sangat dekat, tapi  itu tak bisa menjamin apapun,bukankah sebelumnya mereaka bertujuh juga berjalan dengan romobongan yang sedekat mungkin sesuai apa yang diarahkan menoz, namun  kenyataan mereka telah terpisah kini.

“Pully” teriak liliy dari sebrang kabut,  alfonso menyuruhnya tak beranjak, namun bukan berarti dia tak boleh membalas sautan pully.

“Liliy” gumam pully,

“Lihat ini berhasil, sudah kuduga, ayo tressa, enam.” Ucap pully bersemangat, membuat tressa tersenyum lega dan bergegas, enam masih terdiam, dia mengambil sesuatu dari tas nya..

“ini, ikatkan tali ini di pergelangan kalian sekencang mungkin, kita akan bergerak menyambangi asal suara lily..”

Ucap enam seraya melemparkan ujung tali kepada mereka berdua, menurut pully ini menggangu, namun tak perlu diambil pusing, toh merekan akan bertemu dengan rombongan yang lainya.
…………
Dari mana kau mendengarnya,?” ucap al mencari

Ah?? Maksud anda suara pully?

Ya?”

Liliy mencoba memastikan, padahal dia sudah tau pasti dari mana

“Dari arah belakang mu..”

“Sudah ku duga, aku mendengarnya dari arah yang berlawanan,” ucap alfonso, memuat liliy semakin gemetar saja, tak mungkin al bercanda disaat seperti ini, dan tak mungkin pendengaran nya salah, namun ia begitu yakin bila suara pully berasal dari arah berlawan yang al katakana.

“Apa anda yakin al?” ucap lily menboa meyakinkan.Al menatap nya dengan serius, sebelum memberi sebuah anggukan kecil.

“dan bukan kah aneh,  menurut mu apa yang akan dilakukan seorang pully, Bila mendengar suara sahutan balasan seperti itu??
Lily terdiam, dia terlalu gemetar untuk berpikir.hanya menunggu al kembali berucap.

“dia pasti akan berteriak semakin kencang dan  berulang ulang, tak peduli siapa yang bersama nya, dia pasti akan melakukanya.”  Al menjawab pertanyaanya sendiri

Kata kata yang masuk akal dari al, memang seharusnya seperti itulah pully bereaksi,  namun sampai saat ini,  beberapa menittelah berlalau  setalah lily kembali menyaut . suara pully sama sekali tak terdengar.

Buang semua senjata mu, aku akan mengikat kan kita disalah satu pohon”
Kita masih berada jauh dari lembah dorest, aku yakin mata hari akan sampai kesini bbegitu fajar”
………………………….
Sebuah bayangan muncul di balik kabut, enam mencabut pedang dari sarungnya,  seorang kakek muncul darii sana, rambutnya sudah memutih dan terdapat botak ditengahnya, namun fisiknya masih tetap bugar seperti rremaja, jubbah serta   seperti seorang penjelajah, namun tak membawa apapun.

Wala….. ada orang lain disini? Ucap  kakek tersebut, membalut mereka betiga dalam keanehan.

Apa kalian tersesat juga? Lanjut sang kakek

“ya,kek kau benar, beberpa puluh menit yang lalu, kami terpisah dari rombongan kami karna kabut ini” jawab pully, hanya seorang kakek tua, dia bisa menenangkan dirinya untuk ini.

Rombongan , oh masih ada yang lain, aku beruntukng, “ kakektersebut meracau sendiri

Apa kalian masih punya bahan makanan?.”

Ya tentu saja, kami punya beberapa ,apa  kakek  lapar?, “ kini tressa mencoba menurunkan tas nya,

Tak perlu, simpan saja dulu, baru beberapa jam yang lalu aku menghabiskan perbekalan terakhir ku, senang nya  memiliki, cadangan , untu mencari jalan keluar dari sini.

Apa kau juga tersesat kek” Tanya enam

“Ya, aku sudah berputar disini beberapa hari.”

“Bagai mana kau bisa sampai kesini.””

“Aku tinggal di pinggir hutan frois, Aku mencari ikan dihulu , dan tersesat disni wewewe”

Ini sudah terlalu jauh memutar menghindari hulu. Ada tebing curam yang kami tempuh seeblum sampai sini.?Baga mana kau bisa kesini?

“ wewewee,,seorang kakek tua seperti ku membaca sebuah arah. apa yang bisa di harapkan untuk itu”

enam.” Ucap tressa, mencoba menghentikan rondongan pertanyaan enam.

tressa paham sorang prajurti rahasia prudence pasti lah harus berhati hati dalam melangkah, tindakan mencurigakan tidak akan di tolerir oleh perisai hitam, namun bagi seorang yang di besarkan dengan di kelilingi tatakrama nirnia yang tinggi tindakan enam tentulah sangat tidak sopan  baginya. dalam dalam ini menatap tajam mata enam.

baiklah, kau boleh ikut kami kek,”

yeppy” justru pully yang kegirangan , dengan ini, dia sedikit bersorak untuk ini.

Oh.Terimakasih ,.”

Yes, ayo semua, ucap pully seraya menarik tali yang mengikat dia tressa dan enam.

Eh,wewewee,, apa ini sebuah tali??

bukankah  Baiknya kalian membuka tali ini,? Ucap sang kakek  ketika memperhatikan ada tali yang menghubungkan mereka bertiga

akan sulit bagi kalian untuk berjalan  bilsa saling terikat seperti iini.” Lanjutnyadengan  tangan menimang nimang tali tersebut .

Tak perlu, kami  telah sepakat, ini menjaga kami agar tak saling terpisah, seperti sebelumnya.” Jawab enam  menyerobot tanpa memperdulikan pendapat pully dan tressa, padahal  jelas terlihat pully   sudah sangat risiih dengan tali tersebut di pergelanganya.

Ku rasa kau juga harus mengikat tangan mu kek, kau akan mati kelaparan bila terpisah dari kami.!”  Tanya pully menghawatirkan sang kakek.

“Tak perlu, aku sudah dua hari tersesat disini, ku rasa aku cukup hafal dengan jalan jalan ini.”

“Aku akan mencoba sedekat mungkin dengan kalian, dan kita akan sama sama keluar dari kabut ini. Bukankah begitu?.

Bales kakek tersebut dengan memberi sinyal kedipan pada pully.

“tentu kek, ku jamin, kita akan keluar dari tempat  sialan ini”.

Entah kenapa pully jadi begitu yakin dapat  keluar dari kabut ini bukan kah tadi dia merupakan orang yang paling khawatir akan situasinya, sifat taltala memang susah di tebak dapat  menjadi berani dalam sekejap saja, atau mungkin hanya pura pura menjadi pemberani.
…………………………..
Sepanjang jalan hala terus merapal sesuatu yang tidak di mengerti oleh menoz,  namun ia yakin mantra yang di ucapkan hala bekerja, kabut kabut tu menjauhi mereka, seperti, kereta yang membelah salju di musim dingin, nampak seperti itu lah perjalanan mereka berdua.

Hanya 3o menit dengan sedikit berlari kecil mereka melihat sebuah dataran terbuka di kaki gunung ini dengan gubuk tua menyempil di pepohonan sebrang dataran.Kabut sudah lepas dari mereka, dan menoz yakin mereka menuju gubuk itu.

“apapun  yang kau dengar, jangan berkata apapun, aku yang  akan mengurus ini.” Ucap hala, yang di setujui oleh menoz..

Tok..!!! tok.!!!!
…………………………….
Matahari semakin turun, sudah beberpa puluh menit mereka berempat  menyelusuri jalur ini.
Tidak, pohon sebelah kira itu, aku sudah sering melewatinya,,”   ucap kakek yang kini menjadi pemandu mereka bertiga

“sebelah sini anak anak” sambungnya seraya berlari kencang kearah kiri.

“hey tunggu kek,” pully terkejut sangkakek berlalri begitu, saja bagaman bila mereka kehilangan kakek tersebut, sungguh kakek tua yang aneh,,

Sinnggg…. Dntingan benda tajam terhempas melayang diudara,,   slittttt.. sretttt..!!

Apa yang kau lakukan enam.” Tressa berteriak, dara segar mengalir dari lengan kiri enam, baru saja, ia menyatkan  pisau kelenganya sendiri. Tak ada ringisan ringsan kesakitan sama sekali di mukanya, hanay sentakan sesaat seolah dia berhasil menyadari sesuatu.

“kita belok kanan , “ ucap enam tegas.

“t-a-p-i… ka-kek, tadi… “ pully terbata, dengan sifat aneh yang di tunjukan enam

“ KUMOHON, jangan buat aku memaksa kalian berdua untu mengikuti ku.!!!!!!!!!!” gigi enam berkerat, dia memaksakan keputusanya,

Tressa tak peduli, dia memilih  mencoba secepat mungkin mengambil perban yang ada ditasnya.
Semntara pully mendengus dia menendang batu, yang terhempas cukup jauh dan terpantul terus menerus, terlalu jauh untuk ukuran tentangan kecil pully.
……………
Indera mereka telah di butakan, kabut menjadi semakin tenbal disanan, meraka sama sekali tak mencoba beranjak, namun  kabut seperti meminta untuk dikendarai sejauh mungkin , alfonso, dan lily  masih terikat di pohon, pikiran mereka mulai kalut, kaki al mencoba meraih pisau yang ia lemparkan tadi, padahal jelas baru beberapa puluh menit yang lalu ia melemparkan semua senjatanya obat yang liliy berikan tak berpengaruh sama sekali, halusinasi ini begitu kuat merangsang otak mereka, atau mungkin saja benar yang dikatakan al,  ini bukan halusinasi yang merangsang otak, tapi jiwa. Sebuah ilusi dari dunia  yang lain.

Pully mulai terseret dengan tali ditanganya,enam pun lupa tentang apa yang ia tarik adalah pully, kesadaranya mulai menipis, tressa, mulai berjalan tanpa pikiran, hanya dorongan dari enam lah yang membuatnya tetap maju,
Mereka benar benar tanpa akal, sudah seperti  berjalannya tiga manusia tak berjiwa,

“ oh sukur lah, kalian lagi,” kakek yang tadi kembali muncul di depan mereka, tanpa bayangan sama sekali, tiba tiba saja sudah ada didepan mereka,Tak ada yang menyadari akan ke anehan sang kakek.  Untuk berpikir pun sulit.suara sang kakek seperti satu satu nya hal yang dapat terdengar mereka bertiga  saat itu.

“Mengapa kalian tak  mengikuti ku, aku menemukan jalan keluar untuk kita, tapi kalian menghilang,”

“ aku menghawatirkan kalian , jadi aku kembali,.. selanjutnya, jangan pernah terpisah dari ku,…”

“ce[atlah, ujung  jalur pohon ini, kita belok kanan, sudah dekat untuk kita bebas..”


 ....................

dikutp dari : FANTASY book 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar